9 Maret, menurut laporan, jurnalis Fox News Eleanor Terrett mengungkapkan bahwa Departemen Kehakiman AS secara resmi meminta pengadilan untuk mengadili ulang Roman Storm, salah satu pendiri Tornado Cash. Pengadilan ulang ini melibatkan dua dakwaan utama, termasuk pencucian uang dan pelanggaran sanksi. Pada sidang pertama sebelumnya, juri gagal mencapai kesepakatan atas kedua dakwaan tersebut, sehingga kasus masih belum selesai.
Berdasarkan informasi yang diungkapkan, meskipun Roman Storm telah mengajukan permohonan berdasarkan aturan prosedur perdata federal Pasal 29 untuk membatalkan hukuman sebelumnya terkait tuduhan “bisnis transfer tanpa izin”, permohonan tersebut masih dalam proses pemeriksaan. Sementara itu, jaksa AS juga mengajukan jadwal sidang baru, yang diusulkan agar pengadilan ulang dilakukan pada awal Oktober 2026.
Kasus ini dipandang sebagai salah satu langkah hukum penting dari otoritas regulasi AS terhadap protokol enkripsi privasi. Tornado Cash, sebagai alat pencampur berbasis blockchain, telah menjadi perhatian regulator karena kemampuannya untuk transaksi anonim. Departemen Kehakiman berpendapat bahwa teknologi semacam ini dapat digunakan untuk menyembunyikan sumber dana ilegal dan menghindari sanksi.
Pengamat pasar menunjukkan bahwa hasil pengadilan ulang ini berpotensi memiliki dampak besar terhadap alat privasi kripto, regulasi kepatuhan blockchain, serta tanggung jawab hukum pengembang. Seiring dengan semakin ketatnya kerangka regulasi teknologi kripto di AS, kasus serupa semakin menjadi indikator penting dalam perkembangan hukum aset digital.