Selalu mengikuti perkembangan pasar kripto Jepang, baru-baru ini ada kemajuan yang cukup menarik perhatian—Jepang sedang mempersiapkan peluncuran ETF aset kripto, dengan target pencapaian langkah ini pada tahun 2028. Ini bisa menjadi titik balik bagi ekosistem kripto Jepang.



Saat ini, ambang masuk pasar kripto di Jepang sebenarnya cukup tinggi. Untuk mengakses Bitcoin atau aset kripto lainnya, perlu membuka akun di bursa secara terpisah, mengelola dompet digital, dan prosesnya cukup rumit. Tapi jika bisa berinvestasi langsung melalui ETF di akun sekuritas yang sudah ada, situasinya akan berbeda sama sekali. Ini berarti investor institusi dan investor ritel biasa dapat masuk ke pasar ini melalui saluran yang mereka kenal.

Setelah Amerika meluncurkan ETF Bitcoin pada awal 2024 dan mendapatkan respons pasar yang baik, saat ini aset yang dikelola sudah mencapai sekitar 13 miliar dolar AS, menarik perhatian dana pensiun dan dana universitas. Investor institusi Jepang melihat tren ini dan mulai mempertimbangkan hal yang sama. Menurut Motoyuki Azuma dari Convano Consulting, meskipun investor Jepang masih ragu untuk memegang Bitcoin dalam portofolio mereka, kepercayaan meningkat jika mereka dapat melihatnya melalui ETF yang resmi. Ia menyebutkan, survei tahun 2024 menunjukkan bahwa 54% dari investor institusi di Jepang berencana mengalokasikan aset kripto dalam tiga tahun ke depan.

Namun, mewujudkan rencana ini tidaklah mudah. Kerangka regulasi di Jepang perlu disesuaikan—Tokyo Stock Exchange harus menyetujui, dan Undang-Undang Dana Investasi juga perlu direvisi untuk memasukkan aset kripto ke dalam kategori "aset tertentu". Alasan di balik ini cukup realistis: dua tahun lalu, sebuah platform kripto di Jepang mengalami celah keamanan yang menyebabkan kehilangan Bitcoin senilai 306 juta dolar AS, sehingga regulator menjadi lebih berhati-hati. Fokus mereka sekarang adalah memastikan standar pengelolaan aset dan perlindungan pelanggan cukup ketat.

Masalah perpajakan juga menjadi kunci. Saat ini, pajak atas penghasilan dari kripto di Jepang mencapai 55%, yang kurang menarik bagi investor. Pemerintah berencana melakukan reformasi pajak pada 2026, menurunkan tarif pajak untuk aset kripto tertentu menjadi 20%, sehingga sejalan dengan tarif pajak saham. Jika kebijakan ini benar-benar diterapkan, kemungkinan besar minat investor Jepang terhadap aset crypto akan meningkat secara signifikan.

Yang menarik, institusi keuangan besar di Jepang sudah mulai bergerak. Nomura Asset Management, SBI Global Asset Management, Daiwa Asset Management, dan perusahaan di bawah grup Mitsubishi UFJ semuanya sedang mengembangkan produk ETF kripto potensial. Bahkan, SBI Holdings dikabarkan berencana meluncurkan ETF yang mengikuti harga Bitcoin dan XRP. Tomohiko Kondo dari SBI VC Trade pada awal tahun menyebutkan bahwa aset kripto kini bukan sekadar alat trading, tetapi melalui hasil dana dan strategi diversifikasi, dapat menawarkan lebih banyak peluang bagi investor.

Namun, Hajime Ikeda dari Nomura Holdings juga mengingatkan adanya tantangan nyata: peluncuran produk segera setelah legislasi disahkan mungkin tidak realistis. Jika produk diluncurkan terburu-buru tanpa menyelesaikan detail seperti perjanjian informasi pelanggan dan standar keamanan, risikonya akan besar. Jadi, meskipun targetnya adalah 2028, peluncuran produk yang sebenarnya mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk disempurnakan. Secara keseluruhan, proses institusionalisasi pasar crypto di Jepang sedang mempercepat, dan ini akan menjadi contoh penting bagi ekosistem kripto di seluruh Asia.
BTC-0,46%
XRP-1,75%
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan