Analis Evercore ISI memperkenalkan pandangan baru tentang hubungan antara nilai euro dan keputusan Bank Sentral Eropa terkait suku bunga. Berdasarkan data Jin10, para ahli menunjukkan bahwa penguatan posisi euro saat ini di pasar keuangan global belum cukup kuat untuk mendorong ECB mempertimbangkan kembali kebijakan penurunan suku bunga. Sebaliknya, untuk perubahan besar seperti itu diperlukan faktor yang jauh lebih serius: penurunan ekspektasi inflasi yang signifikan akibat melemahnya permintaan konsumen.
Tingkat kritis: apa yang diperlukan untuk pengaruh euro yang kuat
Para analis menentukan patokan harga tertentu di mana kekuatan euro benar-benar dapat mempengaruhi keputusan regulator. Menurut perhitungan mereka, euro harus naik ke level 1,25 terhadap dolar AS agar dapat memberikan tekanan yang cukup dan membuat ECB mempertimbangkan penurunan suku bunga secara serius. Saat ini, level tersebut masih agak jauh, menunjukkan bahwa pengaruh penguatan mata uang saat ini terbatas.
Ekspektasi suku bunga hingga tahun 2026
Analis Evercore ISI menyusun skenario dasar, di mana ECB akan mempertahankan tingkat suku bunga saat ini sepanjang tahun. Namun, mereka menyoroti sifat risiko yang asimetris: risiko lebih condong ke arah penurunan suku bunga daripada kenaikan. Ramalan ini menunjukkan ketidakpastian dalam peramalan ekonomi.
Skenario perkembangan: dari tindakan moderat hingga agresif
Nuansa dalam analisis Evercore ISI mengungkapkan potensi jalur perkembangan. Dalam situasi penguatan euro yang berlebihan, ECB mungkin memutuskan untuk melakukan satu kali penurunan suku bunga sebagai langkah pengekangan. Namun, jika tekanan ekonomi yang lebih luas terkait penurunan ekspektasi inflasi semakin meningkat, bank sentral berpotensi melakukan dua kali penurunan suku bunga dalam setahun. Dengan demikian, kekuatan faktor ekonomi akan menjadi penentu dalam menentukan intensitas kebijakan moneter.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Kekuatan Euro: Mengapa Penguatan Mata Uang Tidak Cukup untuk Mengubah Kebijakan ECB
Analis Evercore ISI memperkenalkan pandangan baru tentang hubungan antara nilai euro dan keputusan Bank Sentral Eropa terkait suku bunga. Berdasarkan data Jin10, para ahli menunjukkan bahwa penguatan posisi euro saat ini di pasar keuangan global belum cukup kuat untuk mendorong ECB mempertimbangkan kembali kebijakan penurunan suku bunga. Sebaliknya, untuk perubahan besar seperti itu diperlukan faktor yang jauh lebih serius: penurunan ekspektasi inflasi yang signifikan akibat melemahnya permintaan konsumen.
Tingkat kritis: apa yang diperlukan untuk pengaruh euro yang kuat
Para analis menentukan patokan harga tertentu di mana kekuatan euro benar-benar dapat mempengaruhi keputusan regulator. Menurut perhitungan mereka, euro harus naik ke level 1,25 terhadap dolar AS agar dapat memberikan tekanan yang cukup dan membuat ECB mempertimbangkan penurunan suku bunga secara serius. Saat ini, level tersebut masih agak jauh, menunjukkan bahwa pengaruh penguatan mata uang saat ini terbatas.
Ekspektasi suku bunga hingga tahun 2026
Analis Evercore ISI menyusun skenario dasar, di mana ECB akan mempertahankan tingkat suku bunga saat ini sepanjang tahun. Namun, mereka menyoroti sifat risiko yang asimetris: risiko lebih condong ke arah penurunan suku bunga daripada kenaikan. Ramalan ini menunjukkan ketidakpastian dalam peramalan ekonomi.
Skenario perkembangan: dari tindakan moderat hingga agresif
Nuansa dalam analisis Evercore ISI mengungkapkan potensi jalur perkembangan. Dalam situasi penguatan euro yang berlebihan, ECB mungkin memutuskan untuk melakukan satu kali penurunan suku bunga sebagai langkah pengekangan. Namun, jika tekanan ekonomi yang lebih luas terkait penurunan ekspektasi inflasi semakin meningkat, bank sentral berpotensi melakukan dua kali penurunan suku bunga dalam setahun. Dengan demikian, kekuatan faktor ekonomi akan menjadi penentu dalam menentukan intensitas kebijakan moneter.