Trader wajib baca: Sinyal pasar di balik penurunan harga dan peningkatan volume, serta 4 sinyal volume dan harga lainnya

Bayangkan sebuah skenario: harga saham yang Anda miliki sedang turun, tetapi volume transaksi justru meningkat. Apakah ini sinyal bahaya atau peluang untuk membeli? Untuk menjawab pertanyaan ini, Anda perlu memahami hubungan volume dan harga—alat paling praktis dalam trading.

Dari sudut pandang trader, mengapa hubungan volume dan harga begitu penting?

Saham tidak bergerak secara terisolasi. Ketika harga berfluktuasi, volume transaksi yang menyertainya mencerminkan niat nyata para pelaku pasar. Volume tinggi saat harga naik menunjukkan adanya minat beli yang besar; volume rendah saat harga naik bisa jadi hanya rebound sesaat. Dengan mengamati interaksi antara harga dan volume, trader dapat mengidentifikasi kekuatan tren, menemukan titik balik sentimen pasar, dan membuat keputusan yang lebih akurat.

Singkatnya, hubungan volume dan harga adalah “detak jantung” pasar—memberitahu Anda arah dana utama yang sebenarnya.

5 Jenis hubungan volume dan harga inti yang perlu diketahui

Perilaku volume dan harga Ciri pasar Sikap yang harus diambil trader
Harga naik volume turun Kelemahan kenaikan, kekuatan beli melemah Hati-hati, waspadai koreksi
Harga datar volume turun Konsolidasi, arah tidak jelas Tunggu sinyal, bersikap menunggu
Volume besar saat harga turun Panik jual, sentimen sangat pesimis Waspadai risiko, tapi bisa jadi peluang
Volume turun saat harga turun Koreksi lembut, tekanan jual minim Netral cenderung positif
Harga turun volume naik Penurunan berkelanjutan, bisa sinyal pembalikan Perlu pertahanan, waspadai titik balik

Yang paling berbahaya: Harga turun volume naik

Banyak trader langsung panik saat melihat harga turun volume naik. Reaksi ini masuk akal—karena penurunan harga yang tajam disertai volume besar biasanya menandakan pasar sedang panik, banyak investor yang menjual. Contohnya, Apple di akhir 2018—karena penjualan iPhone yang melambat dan ketegangan dagang AS-China, harga saham turun lebih dari 30% dalam sebulan, tetapi volume transaksi justru melonjak.

Namun, ada sisi lain dari fenomena ini—harga turun volume naik juga bisa menjadi sinyal pembentukan dasar. Ketika harga mengalami koreksi panjang dan volume meningkat, itu menunjukkan pemilik saham mulai melepas resistensi, dan pembeli baru mulai masuk. Contohnya, saham BlackBerry pada 2012—meskipun harga terus turun karena tekanan dari smartphone, volume tinggi saat harga mencapai titik terendah justru menandai peluang pembalikan. Akhirnya, harga rebound dari dasar tersebut.

Pelajaran trading: Harga turun volume naik harus dipadukan dengan indikator lain. Jika penurunan disebabkan oleh fundamental memburuk (misalnya laporan keuangan buruk), kemungkinan harga akan terus turun. Tapi jika ini adalah penjualan panik setelah oversold, bisa jadi peluang pembalikan.

Yang paling sering diabaikan dan berbahaya: Harga naik volume turun

Kenaikan harga saham seharusnya kabar baik, tapi jika kenaikan disertai volume yang menurun, ini adalah tanda bahaya. Situasi ini menunjukkan pembeli awal mulai keluar dari pasar, dan pembeli baru belum masuk.

Contohnya, Tesla di awal 2017—harga mencapai rekor tertinggi, tetapi volume transaksi menurun terus-menerus. Beberapa bulan kemudian, harga mulai koreksi. Kasus lain adalah Alibaba. Divergensi volume dan harga ini sering menandai akhir dari rebound teknikal dan bukan awal tren baru yang kuat.

Psikologi pasar: Setelah semua optimis membeli, siapa lagi yang mau masuk? Volume yang menurun adalah cerminan “kelangkaan pembeli” yang tersisa.

Pelajaran trading: Saat melihat harga naik volume turun, tingkatkan kewaspadaan risiko. Pertimbangkan untuk ambil keuntungan sebagian dan memperketat stop loss, menunggu volume kembali membesar untuk mengonfirmasi tren.

Situasi paling menuntut kesabaran: Harga datar volume turun

Harga bergerak dalam kisaran tertentu berulang kali, sementara volume semakin mengecil—ini disebut harga datar volume turun. Apa artinya? Pasar sedang dalam kebekuan, para trader tidak sepakat tentang arah masa depan saham.

Contohnya, Nvidia dan Boeing pernah mengalami fase ini. Dalam periode ini, kebanyakan trader bersikap menunggu, tanpa ada katalis yang jelas.

Ini sebenarnya bukan hal buruk. Volume kecil saat harga datar sering menandakan pasar sedang mengumpulkan energi. Begitu ada berita positif atau negatif besar, volume akan melonjak dan harga akan menembus level tertentu.

Pelajaran trading: Saat dalam fase ini, sebaiknya “tidak trading”. Tunggu sinyal breakout yang jelas untuk menghindari kerugian di pasar yang tidak pasti.

Sinyal yang paling sering menipu: Volume besar saat harga turun

Ketika harga jatuh tajam dan volume melonjak, banyak trader langsung menganggap “ini akhir dari segalanya”. Memang, volume besar saat penurunan biasanya menunjukkan sentimen sangat pesimis.

Contohnya, saat pandemi COVID-19, saham hotel seperti Hilton mengalami penurunan drastis dengan volume besar, karena kekhawatiran jangka panjang terhadap industri perjalanan. Tapi, menariknya, volume besar saat penurunan ini juga bisa menjadi peluang beli. Setelah penjualan panik, harga sering rebound cepat, dan pembeli yang berani mendapatkan keuntungan besar.

Perbedaannya terletak pada penyebab penurunan: Apakah karena gangguan industri secara sistematis (seperti pandemi), atau reaksi berlebihan terhadap berita tertentu.

Pelajaran trading: Volume besar saat harga turun adalah sinyal risiko dan peluang sekaligus. Penting untuk menilai penyebabnya—apakah karena faktor struktural atau sentimen sesaat.

Sinyal lembut yang sering disalahartikan: Volume turun saat harga turun

Harga turun tetapi volume juga mengecil—ini disebut volume turun saat harga turun. Terlihat buruk, tapi dari sudut pandang lain, ini bisa menandakan kekurangan tenaga untuk melanjutkan penurunan.

Contohnya, Netflix di 2018 dan Facebook di 2022. Volume yang menurun saat harga turun menunjukkan pemilik saham mulai melepas posisi, tetapi pembeli baru belum masuk. Penurunan ini cenderung lebih mudah berbalik daripada penurunan volume besar.

Pelajaran trading: Saat volume turun saat harga turun, bisa dipertimbangkan untuk memasang order di level support teknikal. Karena kekurangan follow-through, peluang rebound cukup tinggi.

Menggabungkan semua: Mengubah hubungan volume dan harga menjadi keunggulan praktis

Setelah memahami 5 pola hubungan volume dan harga ini, trader harus ingat dua prinsip utama:

Prinsip 1: Volume dan harga bergerak searah adalah sinyal paling kuat. Harga naik volume naik, atau harga turun volume turun, menunjukkan kekuatan tren yang konsisten.

Prinsip 2: Divergensi volume dan harga harus diwaspadai. Harga naik volume turun, atau harga turun volume naik, menandakan potensi pembalikan tren dan perlunya perlindungan.

Selain itu, hubungan volume dan harga saja tidak cukup. Harus dikombinasikan dengan formasi candlestick, moving average, indikator kekuatan relatif(RSI) dan alat lain untuk konfirmasi. Hanya ketika beberapa sinyal mengarah ke arah yang sama, peluang keberhasilan trading akan meningkat secara signifikan.

Pasar saham selalu menguji kesabaran dan disiplin trader. Menguasai hubungan volume dan harga hanyalah langkah awal menuju trader matang.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
  • Sematkan

Perdagangkan Kripto Di Mana Saja Kapan Saja
qrCode
Pindai untuk mengunduh aplikasi Gate
Komunitas
Bahasa Indonesia
  • 简体中文
  • English
  • Tiếng Việt
  • 繁體中文
  • Español
  • Русский
  • Français (Afrique)
  • Português (Portugal)
  • Bahasa Indonesia
  • 日本語
  • بالعربية
  • Українська
  • Português (Brasil)