2025年 Jepang mengalami gelombang rebound yang menarik perhatian di pasar sahamnya. Setelah mengalami penyesuaian singkat pada bulan April, pasar saham Jepang segera memulai kenaikan yang kuat, terutama performa bulan Mei dan Juni yang sangat mencolok. Hingga akhir Juni, Indeks Nikkei 225 menembus 40487 poin, menyentuh level tertinggi hampir satu tahun, dan dengan kokoh berdiri di atas angka 40000. Jadi pertanyaannya adalah: apakah tren kenaikan ini masih bisa berlanjut? saham Jepang mana yang direkomendasikan dan layak diperhatikan? Bagaimana investor biasa sebaiknya berpartisipasi?
Mengapa Nikkei 225 Melonjak? Berapa Lama Logika Rebound Bisa Bertahan?
Kenaikan pasar saham Jepang ini secara fundamental berasal dari penilaian ulang terhadap dasar fundamental perusahaan Jepang, ditambah dengan resonansi keunggulan struktural.
Pada bulan April, pasar global dilanda kepanikan karena ekspektasi kebijakan perdagangan, sehingga rasio harga terhadap laba (PER) indeks Nikkei sempat turun ke 12 kali, yang jauh lebih murah dibandingkan pasar saham utama internasional. Seiring dengan koreksi ekspektasi pesimis, para investor mulai menyadari bahwa kekhawatiran sebelumnya berlebihan, dan PER perlahan kembali ke sekitar 13 kali. Reversal valuasi ini menjadi pendorong utama rebound.
Selain itu, dana global sedang melakukan penyesuaian besar-besaran dalam alokasi aset, mengurangi posisi di saham AS dan mencari target investasi baru menjadi arus utama pasar. Karena valuasi yang menarik, pasar saham Jepang secara alami menjadi sasaran utama bagi modal internasional. Tapi ini bukan sekadar rebound teknikal—reformasi tata kelola perusahaan di Bursa Tokyo sedang benar-benar mengubah perilaku perusahaan, semakin banyak perusahaan mulai meningkatkan dividen dan menjalankan program buyback saham, yang menunjukkan fundamentalnya benar-benar membaik.
Selain itu, pemulihan rantai industri teknologi global juga mendorong performa saham di sektor semikonduktor dan peralatan presisi Jepang, semakin memperkuat kepercayaan pasar untuk melakukan posisi long. Namun, apakah tren ini bisa berlanjut, masih bergantung pada arah kebijakan moneter Bank of Japan dan apakah preferensi risiko investor internasional akan berbalik.
Logika Investasi Rekomendasi Saham Jepang
Langkah yang patut diperhatikan adalah aksi Warren Buffett. Sejak 2019, dia mulai membeli saham lima perusahaan perdagangan terbesar Jepang, dan pada bulan Juni tahun ini, dia kembali menambah posisi (melibatkan Mitsubishi Corporation, Mitsui & Co., Itochu Corporation, Sumitomo Corporation, Marubeni). Sesuai gaya investasi Buffett yang konsisten, saham yang dia beli biasanya dipertahankan jangka panjang dan jarang dijual cepat. Lebih menarik lagi, dia secara terbuka menyatakan di rapat pemegang saham Berkshire Hathaway bahwa saham perusahaan perdagangan ini “tidak akan dijual selama 50 tahun”. Pernyataan ini sendiri mencerminkan keyakinan kuatnya terhadap nilai jangka panjang perusahaan Jepang.
Berdasarkan pendekatan ini, berikut tujuh saham Jepang yang layak diperhatikan.
Keyence (6861.JP): Juara Tersembunyi di Bidang Automasi Industri
Keyence mungkin namanya tidak sebesar Sony atau Nintendo, tetapi di bidang automasi industri, perusahaan ini adalah juara sejati. Didirikan tahun 1974 oleh Takeshi Takizaki, perusahaan ini berpegang teguh pada strategi “berorientasi desain”, fokus mengembangkan sensor otomatis, sistem visual, perangkat penandaan laser dan produk bernilai tambah tinggi lainnya. Meski tidak terlibat langsung dalam proses manufaktur, mereka menjual produk melalui jaringan distribusi global ke 46 negara dan wilayah.
Produk Keyence mencakup tiga bidang utama: automasi industri (sensor, pembaca barcode), pengukuran presisi (mikroskop digital, alat ukur), dan kontrol proses (peralatan pemrosesan laser). Solusi ini banyak digunakan di industri semikonduktor, otomotif, bioteknologi, dan manufaktur kelas atas lainnya, dengan logo berwarna biru mereka menjadi simbol pabrik pintar.
Pada tahun fiskal 2024, pendapatan Keyence mencapai 1,059 triliun yen, laba operasi 549,78 miliar yen, laba sebelum pajak 561,01 miliar yen, dan laba bersih mencapai 398,66 miliar yen. Analis Wall Street memperkirakan target harga rata-rata 74.282,41 yen dalam 12 bulan ke depan, dengan potensi tertinggi mencapai 80.075 yen, yang berarti potensi kenaikan sekitar 30% dari harga saat ini 56.800 yen.
Tokyo Electron (8035.JP): Siklus Emas Peralatan Semikonduktor
Tokyo Electron adalah pemasok perangkat penting dalam rantai industri semikonduktor global, dengan kapitalisasi pasar mencapai 12,6 triliun yen. Perusahaan utama menyediakan sistem pencucian wafer, peralatan pelapisan, dan proses kritis lainnya kepada raksasa industri seperti Samsung, TSMC, Intel.
Seiring dengan meningkatnya posisi strategis bahan semikonduktor di bidang elektronik dan pertahanan, permintaan akan peralatan terkait pun meningkat pesat. Pada tahun fiskal 2024, kinerja perusahaan sangat baik, dengan pendapatan gabungan mencapai 2,43 triliun yen, naik 32,8%. Pasar luar negeri menunjukkan performa yang sangat kuat, dengan pertumbuhan 36,2% menjadi 2,24 triliun yen, menyumbang 92,2% dari total pendapatan; pasar domestik Jepang tumbuh tipis 2,7% menjadi 189,98 miliar yen.
Meskipun biaya penjualan meningkat 28,5%, Tokyo Electron mampu mengendalikan biaya dengan baik, sehingga laba kotor meningkat 38,1% menjadi 1,15 triliun yen, margin laba kotor naik 1,7 poin persentase menjadi 47,1%. Biaya penjualan dan administrasi turun 2,1 poin menjadi 18,4%, mendorong laba operasional melonjak 52,8% menjadi 697,32 miliar yen, dan margin laba operasional naik 3,8 poin menjadi 28,7%.
Laba bersih setelah pajak meningkat 49,5% menjadi 544,13 miliar yen, EPS melonjak dari 783,8 yen menjadi 1.182,4 yen. Analis Jefferies mempertahankan rekomendasi “Beli” dengan target harga 32.000 yen, dan performa selanjutnya patut diikuti.
Mitsubishi Heavy Industries (7011.JP): Raksasa Industri yang Didukung Permintaan Pertahanan
Mitsubishi Heavy Industries adalah salah satu perusahaan industri tertua di Jepang, yang berakar sejak 1884 dari galangan kapal Mitsubishi. Sejak zaman Meiji, perusahaan ini sudah berperan dalam proses industrialisasi Jepang, dan kini menjadi konglomerat yang mencakup bidang dirgantara, energi, mesin industri, dan lainnya.
Sebagai salah satu perusahaan industri berat tertua di Jepang, Mitsubishi Heavy Industries mewakili standar teknologi manufaktur tertinggi. Prospek kinerja terbaru cukup optimistis: tanpa pengaruh tarif AS, perusahaan diuntungkan oleh permintaan pertahanan yang terus kuat, dan diperkirakan laba operasional tahun fiskal 2025-26 akan tumbuh 9,6% menjadi 420 miliar yen (sekitar 2,9 miliar USD). Prediksi ini didasarkan pada performa kuat tahun fiskal 2024-25, dengan laba operasional 383,2 miliar yen, naik 35,6% secara tahunan.
Dari berbagai divisi, laba operasional dari bidang dirgantara dan pertahanan diperkirakan meningkat 40%, menjadi pendorong utama pertumbuhan; sementara bisnis sistem energi diperkirakan tumbuh 17%. Rata-rata target harga 12 bulan dari analis di Wall Street adalah 3.743,76 yen, dengan potensi kenaikan hingga 4.100 yen, yaitu potensi kenaikan sekitar 17,54%.
Nintendo (7974.JP): Investasi Jangka Panjang di Industri Game
Menyebut Nintendo, kebanyakan orang teringat game klasik yang menemani masa kecil. Tapi performa tahun fiskal 2024 sebenarnya kurang baik—pendapatan turun 30,3% menjadi 1,16 triliun yen, laba operasi jatuh 46,6% menjadi 282,5 miliar yen, dan laba bersih menyusut 43,2% menjadi 278,8 miliar yen.
Penurunan ini terutama disebabkan dua faktor: pertama, konsol Switch yang ada sudah memasuki akhir siklus hidupnya, sehingga suasana menunggu dari pemain cukup tinggi; kedua, pengumuman generasi berikutnya, Nintendo Switch 2, semakin menahan keinginan beli konsumen. Dari segi distribusi pasar, Amerika menyumbang 44,2% dari pendapatan, diikuti Eropa dan Jepang masing-masing 24,5% dan 23,6%.
Meski performa jangka pendek kurang memuaskan, analis pasar percaya bahwa industri game mulai menunjukkan kembali nilai investasinya. Pertumbuhan industri ini terus melampaui GDP global, didukung oleh perluasan basis pemain dan diversifikasi model monetisasi—langganan, item virtual, pembaruan konten musiman—yang memungkinkan perusahaan menghasilkan lebih banyak dari setiap pemain. Rata-rata target harga 12 bulan dari 11 analis di Wall Street adalah 14.035,27 yen, dengan potensi tertinggi mencapai 20.780 yen.
Sony Group (6758.JP): Ekosistem Konten yang Mulai Membuahkan Hasil
Sony melaporkan laba bersih kuartal terakhir naik 4,6% menjadi 197,7 miliar yen, tetapi diperkirakan laba bersih tahun fiskal baru akan turun 13%, terutama karena dampak tarif AS. Divisi konten musik dan film menjadi pendorong utama pertumbuhan laba, berkat strategi ekosistem konten yang agresif—mengakuisisi studio game Bungie, platform anime Crunchyroll, dan bekerja sama dengan Kadokawa untuk pengembangan IP.
Sebaliknya, bisnis perangkat keras menghadapi tantangan. Penjualan PS5 diperkirakan turun dari 18,5 juta menjadi 15 juta unit, mencerminkan penyesuaian pasar konsol game. Kebijakan tarif AS diperkirakan mengurangi laba operasional Sony sebesar 100 miliar yen, memaksa Sony meninjau ulang strategi rantai pasok global.
Manajemen Sony telah mulai mengambil langkah, termasuk mendiversifikasi basis produksi dan menyesuaikan strategi harga untuk mengatasi tarif. Yang menarik, Sony menunjukkan kemampuan “ketahanan bisnis” khas perusahaan Jepang—dengan menjaga bisnis perangkat keras sekaligus mempercepat pergeseran ke layanan konten. Strategi “soft-hard” ini, apakah akan berhasil melawan risiko geopolitik, akan menjadi fokus pengamatan ke depan. Rata-rata target harga 12 bulan dari 9 analis di Wall Street adalah 4.389,49 yen, dengan potensi kenaikan sekitar 21,69%.
Mitsubishi Corporation (8058.JP): Raksasa Perdagangan yang Didukung Buffett
Mitsubishi Corporation adalah salah satu dari lima perusahaan perdagangan terbesar Jepang, dan juga perusahaan Jepang yang paling disukai Warren Buffett melalui Berkshire Hathaway. Pada Juni 2025, Berkshire mengumumkan peningkatan kepemilikan di kelima perusahaan perdagangan ini sebesar 1,0% hingga 1,7%, sehingga total kepemilikan mereka mencapai 8,5% hingga 9,8%.
Alasan Buffett menyukai perusahaan-perusahaan ini jelas: efisiensi penggunaan modal tinggi, tim manajemen yang unggul, dan sangat memperhatikan hak pemegang saham. Dalam suratnya kepada pemegang saham Februari 2025, Buffett menyatakan telah mendapatkan persetujuan dari pihak Jepang untuk meningkatkan kepemilikan di atas 9,9%, dan mengisyaratkan akan terus menambah posisi. Perusahaan-perusahaan ini mengelola portofolio besar di energi, sumber daya, dan infrastruktur global, dengan kekuatan finansial yang kokoh.
Laporan keuangan tahun fiskal 2025 (sampai 31 Maret) menunjukkan pendapatan tahunan sebesar 18,6 triliun yen, turun 4,9%, tetapi laba sebelum pajak meningkat 2,3% menjadi 1,4 triliun yen. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk adalah 950,7 miliar yen, turun 1,4%. Performa ini menunjukkan ketahanan perusahaan perdagangan Jepang di masa ekonomi lesu. Tapi, harga saham saat ini agak tinggi, disarankan menunggu koreksi harga sebelum masuk posisi.
Hitachi (6501.JP): Dari Produsen Hardware Menuju Penyedia Layanan Software
Perjalanan Hitachi adalah contoh transformasi perusahaan yang luar biasa. Perusahaan industri Jepang yang sudah berusia 111 tahun ini baru-baru ini mengumumkan akuisisi besar senilai 9,6 miliar USD terhadap perusahaan layanan digital AS, GlobalLogic, sebagai bagian dari strategi bertransformasi menjadi penyedia layanan perangkat lunak. CEO Hitachi, Toshiaki Higashihara, menyebut langkah ini sebagai “perubahan besar seluruh perusahaan”.
Didirikan tahun 1910, grup Hitachi dikenal dengan strategi akuisisi agresif di bidang industri. Mereka telah keluar dari sebagian besar pasar elektronik konsumen, dan menjual bisnis lama yang stagnan seperti alat listrik dan kimia. Strateginya jelas: mempertahankan bisnis peralatan transportasi rel, suku cadang mobil, dan mesin berat lainnya, sambil fokus penuh pada digitalisasi industri dan layanan transformasi digital bagi pelanggan manufaktur.
Meskipun pada bulan April harga saham sempat jatuh karena ketegangan perdagangan, tidak lama kemudian mereka pulih dan saat ini harga saham mendekati level tertinggi 20 tahun terakhir. Profesor Ulrike Schaede dari University of California, San Diego, menyebut restrukturisasi aset Hitachi sebagai “guncangan bagi perusahaan Jepang yang konservatif”—perubahan dari produsen listrik menuju solusi data infrastruktur, yang dianggap sebagai contoh transformasi perusahaan. Keunggulan Hitachi terletak pada strategi transformasi yang jelas dan eksekusi yang kuat, dan performa harga saham akhir-akhir ini menunjukkan pasar mengapresiasi langkah mereka.
Bagaimana Investor Bisa Berpartisipasi dalam Rekomendasi Saham Jepang?
Solusi Pertama: Investasi Indeks Saham Jepang
Investasi indeks saham adalah cara paling langsung dan sederhana untuk berpartisipasi. Meskipun potensi kenaikannya tidak seagresif saham individual, selama pasar saham Jepang secara keseluruhan naik, investor akan mendapatkan keuntungan yang pasti. Bagi investor yang mengutamakan kepastian, investasi indeks adalah pilihan terbaik.
Indeks Nikkei 225 adalah indeks saham Jepang paling terkenal, mencakup 225 perusahaan terpilih di pasar saham Jepang, hampir semua perusahaan terkenal Jepang masuk di dalamnya. Pada semester pertama tahun ini, indeks ini sempat turun ke 31.136 poin akibat ketakutan terhadap tarif global (terendah dalam lebih dari satu tahun), lalu bangkit kembali didorong oleh pemulihan valuasi, aliran dana global, dan perbaikan fundamental. Meskipun sulit memastikan apakah rebound ini akan berlanjut, pasar saham Jepang setidaknya sudah keluar dari kondisi terlalu berhati-hati, dan bisa menjadi acuan alokasi aset.
Solusi Kedua: Partisipasi Melalui Pasar AS
Banyak perusahaan Jepang terkenal yang menerbitkan American Depositary Receipts (ADR), seperti Toyota (TM.US), SoftBank (SFTBY.US), Sumitomo Mitsui (SMFG.US), Nintendo (NTDOY.US), dan lain-lain. Dengan memiliki akun di pasar saham AS, investor bisa melakukan transaksi dengan sangat mudah. Pergerakan saham-saham ini umumnya sejalan dengan pasar saham Jepang domestik.
Solusi Ketiga: Melalui Perantara Broker Taiwan
Membeli saham Jepang secara langsung cukup rumit, tetapi broker Taiwan seperti Yuanta Securities dan Fubon Securities dapat membantu melakukan transaksi melalui layanan cross-border. Namun, prosesnya relatif kompleks, jumlah pembelian terbatas, dan biaya transaksi lebih tinggi. Disarankan untuk berkonsultasi dengan layanan pelanggan broker terkait sebelum melakukan transaksi.
Prospek Pasar Saham Jepang ke Depan
Jangka Pendek: Pergerakan pasar saham Jepang saat ini sangat dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan perdagangan. Meskipun penurunan tarif bisa memberi peluang rebound, perlambatan ekonomi global dan kinerja ekspor Jepang yang lemah kemungkinan akan membuat indeks Nikkei berfluktuasi di kisaran 37.000–38.000 poin. Para analis mengingatkan bahwa arus masuk dana asing saat ini lebih bersifat arbitrase valuasi, dan berapa lama dana panas ini akan bertahan masih belum pasti.
Jangka Menengah: Jika memperpanjang horizon hingga 2026, perubahan kebijakan moneter Bank of Japan bisa menjadi titik balik utama. Jika BOJ mulai menaikkan suku bunga, valuasi saham keuangan akan membaik, dan normalisasi nilai tukar yen akan meningkatkan kualitas laba perusahaan. Kunci utamanya adalah apakah BOJ mampu menyesuaikan kecepatan kenaikan suku bunga sesuai kondisi ekonomi global.
Potensi Jangka Panjang: Untuk indeks Nikkei menembus kembali di atas 40.000 poin dan melanjutkan kenaikan, diperlukan beberapa faktor pendukung secara bersamaan, seperti reformasi tata kelola perusahaan yang meningkatkan ROE, munculnya industri baru yang kompetitif, dan perbaikan hubungan ekonomi Jepang-AS. Tapi saat ini, kondisi tersebut belum sepenuhnya terpenuhi.
Secara keseluruhan, logika utama rekomendasi saham Jepang didasarkan pada valuasi yang menarik, perbaikan fundamental, dan nilai investasi jangka panjang. Investor harus menyesuaikan dengan toleransi risiko dan kerangka waktu investasi masing-masing.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Bagaimana strategi setelah Nikkei 225 menembus level 40.000? Rekomendasi dan panduan investasi saham Jepang【Edisi 2025】
2025年 Jepang mengalami gelombang rebound yang menarik perhatian di pasar sahamnya. Setelah mengalami penyesuaian singkat pada bulan April, pasar saham Jepang segera memulai kenaikan yang kuat, terutama performa bulan Mei dan Juni yang sangat mencolok. Hingga akhir Juni, Indeks Nikkei 225 menembus 40487 poin, menyentuh level tertinggi hampir satu tahun, dan dengan kokoh berdiri di atas angka 40000. Jadi pertanyaannya adalah: apakah tren kenaikan ini masih bisa berlanjut? saham Jepang mana yang direkomendasikan dan layak diperhatikan? Bagaimana investor biasa sebaiknya berpartisipasi?
Mengapa Nikkei 225 Melonjak? Berapa Lama Logika Rebound Bisa Bertahan?
Kenaikan pasar saham Jepang ini secara fundamental berasal dari penilaian ulang terhadap dasar fundamental perusahaan Jepang, ditambah dengan resonansi keunggulan struktural.
Pada bulan April, pasar global dilanda kepanikan karena ekspektasi kebijakan perdagangan, sehingga rasio harga terhadap laba (PER) indeks Nikkei sempat turun ke 12 kali, yang jauh lebih murah dibandingkan pasar saham utama internasional. Seiring dengan koreksi ekspektasi pesimis, para investor mulai menyadari bahwa kekhawatiran sebelumnya berlebihan, dan PER perlahan kembali ke sekitar 13 kali. Reversal valuasi ini menjadi pendorong utama rebound.
Selain itu, dana global sedang melakukan penyesuaian besar-besaran dalam alokasi aset, mengurangi posisi di saham AS dan mencari target investasi baru menjadi arus utama pasar. Karena valuasi yang menarik, pasar saham Jepang secara alami menjadi sasaran utama bagi modal internasional. Tapi ini bukan sekadar rebound teknikal—reformasi tata kelola perusahaan di Bursa Tokyo sedang benar-benar mengubah perilaku perusahaan, semakin banyak perusahaan mulai meningkatkan dividen dan menjalankan program buyback saham, yang menunjukkan fundamentalnya benar-benar membaik.
Selain itu, pemulihan rantai industri teknologi global juga mendorong performa saham di sektor semikonduktor dan peralatan presisi Jepang, semakin memperkuat kepercayaan pasar untuk melakukan posisi long. Namun, apakah tren ini bisa berlanjut, masih bergantung pada arah kebijakan moneter Bank of Japan dan apakah preferensi risiko investor internasional akan berbalik.
Logika Investasi Rekomendasi Saham Jepang
Langkah yang patut diperhatikan adalah aksi Warren Buffett. Sejak 2019, dia mulai membeli saham lima perusahaan perdagangan terbesar Jepang, dan pada bulan Juni tahun ini, dia kembali menambah posisi (melibatkan Mitsubishi Corporation, Mitsui & Co., Itochu Corporation, Sumitomo Corporation, Marubeni). Sesuai gaya investasi Buffett yang konsisten, saham yang dia beli biasanya dipertahankan jangka panjang dan jarang dijual cepat. Lebih menarik lagi, dia secara terbuka menyatakan di rapat pemegang saham Berkshire Hathaway bahwa saham perusahaan perdagangan ini “tidak akan dijual selama 50 tahun”. Pernyataan ini sendiri mencerminkan keyakinan kuatnya terhadap nilai jangka panjang perusahaan Jepang.
Berdasarkan pendekatan ini, berikut tujuh saham Jepang yang layak diperhatikan.
Keyence (6861.JP): Juara Tersembunyi di Bidang Automasi Industri
Keyence mungkin namanya tidak sebesar Sony atau Nintendo, tetapi di bidang automasi industri, perusahaan ini adalah juara sejati. Didirikan tahun 1974 oleh Takeshi Takizaki, perusahaan ini berpegang teguh pada strategi “berorientasi desain”, fokus mengembangkan sensor otomatis, sistem visual, perangkat penandaan laser dan produk bernilai tambah tinggi lainnya. Meski tidak terlibat langsung dalam proses manufaktur, mereka menjual produk melalui jaringan distribusi global ke 46 negara dan wilayah.
Produk Keyence mencakup tiga bidang utama: automasi industri (sensor, pembaca barcode), pengukuran presisi (mikroskop digital, alat ukur), dan kontrol proses (peralatan pemrosesan laser). Solusi ini banyak digunakan di industri semikonduktor, otomotif, bioteknologi, dan manufaktur kelas atas lainnya, dengan logo berwarna biru mereka menjadi simbol pabrik pintar.
Pada tahun fiskal 2024, pendapatan Keyence mencapai 1,059 triliun yen, laba operasi 549,78 miliar yen, laba sebelum pajak 561,01 miliar yen, dan laba bersih mencapai 398,66 miliar yen. Analis Wall Street memperkirakan target harga rata-rata 74.282,41 yen dalam 12 bulan ke depan, dengan potensi tertinggi mencapai 80.075 yen, yang berarti potensi kenaikan sekitar 30% dari harga saat ini 56.800 yen.
Tokyo Electron (8035.JP): Siklus Emas Peralatan Semikonduktor
Tokyo Electron adalah pemasok perangkat penting dalam rantai industri semikonduktor global, dengan kapitalisasi pasar mencapai 12,6 triliun yen. Perusahaan utama menyediakan sistem pencucian wafer, peralatan pelapisan, dan proses kritis lainnya kepada raksasa industri seperti Samsung, TSMC, Intel.
Seiring dengan meningkatnya posisi strategis bahan semikonduktor di bidang elektronik dan pertahanan, permintaan akan peralatan terkait pun meningkat pesat. Pada tahun fiskal 2024, kinerja perusahaan sangat baik, dengan pendapatan gabungan mencapai 2,43 triliun yen, naik 32,8%. Pasar luar negeri menunjukkan performa yang sangat kuat, dengan pertumbuhan 36,2% menjadi 2,24 triliun yen, menyumbang 92,2% dari total pendapatan; pasar domestik Jepang tumbuh tipis 2,7% menjadi 189,98 miliar yen.
Meskipun biaya penjualan meningkat 28,5%, Tokyo Electron mampu mengendalikan biaya dengan baik, sehingga laba kotor meningkat 38,1% menjadi 1,15 triliun yen, margin laba kotor naik 1,7 poin persentase menjadi 47,1%. Biaya penjualan dan administrasi turun 2,1 poin menjadi 18,4%, mendorong laba operasional melonjak 52,8% menjadi 697,32 miliar yen, dan margin laba operasional naik 3,8 poin menjadi 28,7%.
Laba bersih setelah pajak meningkat 49,5% menjadi 544,13 miliar yen, EPS melonjak dari 783,8 yen menjadi 1.182,4 yen. Analis Jefferies mempertahankan rekomendasi “Beli” dengan target harga 32.000 yen, dan performa selanjutnya patut diikuti.
Mitsubishi Heavy Industries (7011.JP): Raksasa Industri yang Didukung Permintaan Pertahanan
Mitsubishi Heavy Industries adalah salah satu perusahaan industri tertua di Jepang, yang berakar sejak 1884 dari galangan kapal Mitsubishi. Sejak zaman Meiji, perusahaan ini sudah berperan dalam proses industrialisasi Jepang, dan kini menjadi konglomerat yang mencakup bidang dirgantara, energi, mesin industri, dan lainnya.
Sebagai salah satu perusahaan industri berat tertua di Jepang, Mitsubishi Heavy Industries mewakili standar teknologi manufaktur tertinggi. Prospek kinerja terbaru cukup optimistis: tanpa pengaruh tarif AS, perusahaan diuntungkan oleh permintaan pertahanan yang terus kuat, dan diperkirakan laba operasional tahun fiskal 2025-26 akan tumbuh 9,6% menjadi 420 miliar yen (sekitar 2,9 miliar USD). Prediksi ini didasarkan pada performa kuat tahun fiskal 2024-25, dengan laba operasional 383,2 miliar yen, naik 35,6% secara tahunan.
Dari berbagai divisi, laba operasional dari bidang dirgantara dan pertahanan diperkirakan meningkat 40%, menjadi pendorong utama pertumbuhan; sementara bisnis sistem energi diperkirakan tumbuh 17%. Rata-rata target harga 12 bulan dari analis di Wall Street adalah 3.743,76 yen, dengan potensi kenaikan hingga 4.100 yen, yaitu potensi kenaikan sekitar 17,54%.
Nintendo (7974.JP): Investasi Jangka Panjang di Industri Game
Menyebut Nintendo, kebanyakan orang teringat game klasik yang menemani masa kecil. Tapi performa tahun fiskal 2024 sebenarnya kurang baik—pendapatan turun 30,3% menjadi 1,16 triliun yen, laba operasi jatuh 46,6% menjadi 282,5 miliar yen, dan laba bersih menyusut 43,2% menjadi 278,8 miliar yen.
Penurunan ini terutama disebabkan dua faktor: pertama, konsol Switch yang ada sudah memasuki akhir siklus hidupnya, sehingga suasana menunggu dari pemain cukup tinggi; kedua, pengumuman generasi berikutnya, Nintendo Switch 2, semakin menahan keinginan beli konsumen. Dari segi distribusi pasar, Amerika menyumbang 44,2% dari pendapatan, diikuti Eropa dan Jepang masing-masing 24,5% dan 23,6%.
Meski performa jangka pendek kurang memuaskan, analis pasar percaya bahwa industri game mulai menunjukkan kembali nilai investasinya. Pertumbuhan industri ini terus melampaui GDP global, didukung oleh perluasan basis pemain dan diversifikasi model monetisasi—langganan, item virtual, pembaruan konten musiman—yang memungkinkan perusahaan menghasilkan lebih banyak dari setiap pemain. Rata-rata target harga 12 bulan dari 11 analis di Wall Street adalah 14.035,27 yen, dengan potensi tertinggi mencapai 20.780 yen.
Sony Group (6758.JP): Ekosistem Konten yang Mulai Membuahkan Hasil
Sony melaporkan laba bersih kuartal terakhir naik 4,6% menjadi 197,7 miliar yen, tetapi diperkirakan laba bersih tahun fiskal baru akan turun 13%, terutama karena dampak tarif AS. Divisi konten musik dan film menjadi pendorong utama pertumbuhan laba, berkat strategi ekosistem konten yang agresif—mengakuisisi studio game Bungie, platform anime Crunchyroll, dan bekerja sama dengan Kadokawa untuk pengembangan IP.
Sebaliknya, bisnis perangkat keras menghadapi tantangan. Penjualan PS5 diperkirakan turun dari 18,5 juta menjadi 15 juta unit, mencerminkan penyesuaian pasar konsol game. Kebijakan tarif AS diperkirakan mengurangi laba operasional Sony sebesar 100 miliar yen, memaksa Sony meninjau ulang strategi rantai pasok global.
Manajemen Sony telah mulai mengambil langkah, termasuk mendiversifikasi basis produksi dan menyesuaikan strategi harga untuk mengatasi tarif. Yang menarik, Sony menunjukkan kemampuan “ketahanan bisnis” khas perusahaan Jepang—dengan menjaga bisnis perangkat keras sekaligus mempercepat pergeseran ke layanan konten. Strategi “soft-hard” ini, apakah akan berhasil melawan risiko geopolitik, akan menjadi fokus pengamatan ke depan. Rata-rata target harga 12 bulan dari 9 analis di Wall Street adalah 4.389,49 yen, dengan potensi kenaikan sekitar 21,69%.
Mitsubishi Corporation (8058.JP): Raksasa Perdagangan yang Didukung Buffett
Mitsubishi Corporation adalah salah satu dari lima perusahaan perdagangan terbesar Jepang, dan juga perusahaan Jepang yang paling disukai Warren Buffett melalui Berkshire Hathaway. Pada Juni 2025, Berkshire mengumumkan peningkatan kepemilikan di kelima perusahaan perdagangan ini sebesar 1,0% hingga 1,7%, sehingga total kepemilikan mereka mencapai 8,5% hingga 9,8%.
Alasan Buffett menyukai perusahaan-perusahaan ini jelas: efisiensi penggunaan modal tinggi, tim manajemen yang unggul, dan sangat memperhatikan hak pemegang saham. Dalam suratnya kepada pemegang saham Februari 2025, Buffett menyatakan telah mendapatkan persetujuan dari pihak Jepang untuk meningkatkan kepemilikan di atas 9,9%, dan mengisyaratkan akan terus menambah posisi. Perusahaan-perusahaan ini mengelola portofolio besar di energi, sumber daya, dan infrastruktur global, dengan kekuatan finansial yang kokoh.
Laporan keuangan tahun fiskal 2025 (sampai 31 Maret) menunjukkan pendapatan tahunan sebesar 18,6 triliun yen, turun 4,9%, tetapi laba sebelum pajak meningkat 2,3% menjadi 1,4 triliun yen. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk adalah 950,7 miliar yen, turun 1,4%. Performa ini menunjukkan ketahanan perusahaan perdagangan Jepang di masa ekonomi lesu. Tapi, harga saham saat ini agak tinggi, disarankan menunggu koreksi harga sebelum masuk posisi.
Hitachi (6501.JP): Dari Produsen Hardware Menuju Penyedia Layanan Software
Perjalanan Hitachi adalah contoh transformasi perusahaan yang luar biasa. Perusahaan industri Jepang yang sudah berusia 111 tahun ini baru-baru ini mengumumkan akuisisi besar senilai 9,6 miliar USD terhadap perusahaan layanan digital AS, GlobalLogic, sebagai bagian dari strategi bertransformasi menjadi penyedia layanan perangkat lunak. CEO Hitachi, Toshiaki Higashihara, menyebut langkah ini sebagai “perubahan besar seluruh perusahaan”.
Didirikan tahun 1910, grup Hitachi dikenal dengan strategi akuisisi agresif di bidang industri. Mereka telah keluar dari sebagian besar pasar elektronik konsumen, dan menjual bisnis lama yang stagnan seperti alat listrik dan kimia. Strateginya jelas: mempertahankan bisnis peralatan transportasi rel, suku cadang mobil, dan mesin berat lainnya, sambil fokus penuh pada digitalisasi industri dan layanan transformasi digital bagi pelanggan manufaktur.
Meskipun pada bulan April harga saham sempat jatuh karena ketegangan perdagangan, tidak lama kemudian mereka pulih dan saat ini harga saham mendekati level tertinggi 20 tahun terakhir. Profesor Ulrike Schaede dari University of California, San Diego, menyebut restrukturisasi aset Hitachi sebagai “guncangan bagi perusahaan Jepang yang konservatif”—perubahan dari produsen listrik menuju solusi data infrastruktur, yang dianggap sebagai contoh transformasi perusahaan. Keunggulan Hitachi terletak pada strategi transformasi yang jelas dan eksekusi yang kuat, dan performa harga saham akhir-akhir ini menunjukkan pasar mengapresiasi langkah mereka.
Bagaimana Investor Bisa Berpartisipasi dalam Rekomendasi Saham Jepang?
Solusi Pertama: Investasi Indeks Saham Jepang
Investasi indeks saham adalah cara paling langsung dan sederhana untuk berpartisipasi. Meskipun potensi kenaikannya tidak seagresif saham individual, selama pasar saham Jepang secara keseluruhan naik, investor akan mendapatkan keuntungan yang pasti. Bagi investor yang mengutamakan kepastian, investasi indeks adalah pilihan terbaik.
Indeks Nikkei 225 adalah indeks saham Jepang paling terkenal, mencakup 225 perusahaan terpilih di pasar saham Jepang, hampir semua perusahaan terkenal Jepang masuk di dalamnya. Pada semester pertama tahun ini, indeks ini sempat turun ke 31.136 poin akibat ketakutan terhadap tarif global (terendah dalam lebih dari satu tahun), lalu bangkit kembali didorong oleh pemulihan valuasi, aliran dana global, dan perbaikan fundamental. Meskipun sulit memastikan apakah rebound ini akan berlanjut, pasar saham Jepang setidaknya sudah keluar dari kondisi terlalu berhati-hati, dan bisa menjadi acuan alokasi aset.
Solusi Kedua: Partisipasi Melalui Pasar AS
Banyak perusahaan Jepang terkenal yang menerbitkan American Depositary Receipts (ADR), seperti Toyota (TM.US), SoftBank (SFTBY.US), Sumitomo Mitsui (SMFG.US), Nintendo (NTDOY.US), dan lain-lain. Dengan memiliki akun di pasar saham AS, investor bisa melakukan transaksi dengan sangat mudah. Pergerakan saham-saham ini umumnya sejalan dengan pasar saham Jepang domestik.
Solusi Ketiga: Melalui Perantara Broker Taiwan
Membeli saham Jepang secara langsung cukup rumit, tetapi broker Taiwan seperti Yuanta Securities dan Fubon Securities dapat membantu melakukan transaksi melalui layanan cross-border. Namun, prosesnya relatif kompleks, jumlah pembelian terbatas, dan biaya transaksi lebih tinggi. Disarankan untuk berkonsultasi dengan layanan pelanggan broker terkait sebelum melakukan transaksi.
Prospek Pasar Saham Jepang ke Depan
Jangka Pendek: Pergerakan pasar saham Jepang saat ini sangat dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan perdagangan. Meskipun penurunan tarif bisa memberi peluang rebound, perlambatan ekonomi global dan kinerja ekspor Jepang yang lemah kemungkinan akan membuat indeks Nikkei berfluktuasi di kisaran 37.000–38.000 poin. Para analis mengingatkan bahwa arus masuk dana asing saat ini lebih bersifat arbitrase valuasi, dan berapa lama dana panas ini akan bertahan masih belum pasti.
Jangka Menengah: Jika memperpanjang horizon hingga 2026, perubahan kebijakan moneter Bank of Japan bisa menjadi titik balik utama. Jika BOJ mulai menaikkan suku bunga, valuasi saham keuangan akan membaik, dan normalisasi nilai tukar yen akan meningkatkan kualitas laba perusahaan. Kunci utamanya adalah apakah BOJ mampu menyesuaikan kecepatan kenaikan suku bunga sesuai kondisi ekonomi global.
Potensi Jangka Panjang: Untuk indeks Nikkei menembus kembali di atas 40.000 poin dan melanjutkan kenaikan, diperlukan beberapa faktor pendukung secara bersamaan, seperti reformasi tata kelola perusahaan yang meningkatkan ROE, munculnya industri baru yang kompetitif, dan perbaikan hubungan ekonomi Jepang-AS. Tapi saat ini, kondisi tersebut belum sepenuhnya terpenuhi.
Secara keseluruhan, logika utama rekomendasi saham Jepang didasarkan pada valuasi yang menarik, perbaikan fundamental, dan nilai investasi jangka panjang. Investor harus menyesuaikan dengan toleransi risiko dan kerangka waktu investasi masing-masing.