

Yanis Varoufakis, mantan Menteri Keuangan Yunani, memberikan peringatan tegas terkait rapuhnya sistem utang global dan potensi kehancuran mendadak. Dalam sebuah podcast, Varoufakis memaparkan analisis mendalam tentang kondisi utang global saat ini, menyoroti keterkaitan erat antara kreditur dan debitur di perekonomian dunia. Pandangannya berakar pada pengalaman panjang di keuangan internasional dan peranannya dalam menangani krisis utang Yunani saat menjabat sebagai Menteri Keuangan.
Varoufakis menjelaskan, sistem utang global beroperasi sebagai jaringan rumit di mana batas antara kreditur dan debitur semakin tidak jelas. Kompleksitas ini menimbulkan kerentanan sistemik yang dapat memicu kegagalan beruntun jika kepercayaan terhadap sistem menurun. Peringatan tersebut disampaikan di tengah rekor tertinggi utang global, menimbulkan kekhawatiran di kalangan ekonom dan pembuat kebijakan tentang keberlanjutan kebijakan fiskal dan moneter saat ini.
Menurut Varoufakis, di negara maju seperti Amerika Serikat, kreditur utama adalah institusi domestik seperti Federal Reserve dan dana kepercayaan pemerintah. Federal Reserve, melalui operasi kebijakan moneter dan program quantitative easing, telah mengakumulasi kepemilikan besar atas obligasi Treasury AS dan surat berharga pemerintah lainnya. Portofolio ini digunakan untuk pelaksanaan kebijakan moneter, pengelolaan suku bunga, serta penyediaan likuiditas bagi pasar keuangan.
Dana kepercayaan pemerintah, termasuk Social Security dan Medicare, juga memegang jumlah signifikan utang pemerintah. Dana tersebut menginvestasikan surplus kontribusinya ke surat berharga Treasury AS, menjadikannya kreditur utama bagi pemerintah federal. Kondisi ini membuat pemerintah secara efektif meminjam dari dirinya sendiri melalui dana kepercayaan tersebut.
Varoufakis juga menyoroti kontribusi warga biasa sebagai kreditur melalui dana pensiun dan tabungan yang diinvestasikan ke surat utang pemerintah. Dana pensiun, akun 401(k), dan IRA sering memiliki alokasi besar pada surat berharga pemerintah yang dinilai sebagai aset aman. Artinya, jutaan warga memiliki kepentingan langsung terhadap stabilitas pasar utang pemerintah, meski tak selalu menyadarinya. Saat menabung untuk pensiun atau berinvestasi di dana obligasi, masyarakat secara tak langsung meminjamkan dana ke pemerintah dan entitas lainnya.
Varoufakis menegaskan, negara seperti Jepang memanfaatkan obligasi Treasury AS sebagai instrumen untuk mengelola surplus perdagangan dan stabilisasi mata uang. Jepang, salah satu pemegang surat berharga Treasury AS terbesar, mengakumulasi obligasi tersebut berkat surplus perdagangan yang konsisten dengan Amerika Serikat. Ketika eksportir Jepang menjual produk ke konsumen Amerika, pembayaran dilakukan dalam dolar AS. Bank of Japan dan institusi keuangan Jepang kemudian menginvestasikan dolar itu ke obligasi Treasury AS untuk memperoleh imbal hasil dan mengelola nilai tukar.
Praktik ini memiliki banyak tujuan strategis. Pertama, Jepang dapat mendaur ulang surplus perdagangannya ke ekonomi AS, mendukung permintaan ekspor dengan menjaga kekuatan dolar terhadap yen. Kedua, obligasi Treasury AS menjadi penyimpan nilai yang aman bagi cadangan devisa Jepang. Ketiga, praktik ini mendukung stabilitas sistem keuangan global dengan memastikan permintaan berkelanjutan atas utang pemerintah AS.
Negara surplus perdagangan lain seperti China dan negara pengekspor minyak menerapkan strategi serupa. Hal ini membentuk hubungan simbiosis di mana negara defisit seperti Amerika Serikat membiayai pengeluaran melalui pembelian obligasi pemerintah oleh negara asing, sementara negara surplus menginvestasikan tabungan berlebih pada aset yang relatif aman. Namun, pola ini juga menimbulkan ketergantungan dan kerentanan yang dapat tereksploitasi di masa tekanan keuangan.
Varoufakis menyoroti sistem utang global yang sangat tidak stabil dan penuh risiko dari berbagai faktor saling terkait. Kenaikan utang menjadi isu utama. Rasio utang pemerintah terhadap PDB meningkat tajam di banyak negara maju dalam satu dekade terakhir, dipengaruhi program stimulus fiskal, populasi menua, dan defisit anggaran struktural. Jika rasio utang terlalu tinggi terhadap output ekonomi, pemerintah berpotensi kesulitan membayar kewajiban, menimbulkan risiko gagal bayar atau restrukturisasi.
Kenaikan suku bunga juga menjadi ancaman besar terhadap keberlanjutan utang. Ketika bank sentral menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi, biaya pembayaran utang meningkat dan pembiayaan kembali utang menjadi lebih mahal. Pemerintah dengan utang tinggi dapat menghadapi dinamika utang yang tak berkelanjutan, di mana pembayaran bunga menyerap porsi anggaran negara yang semakin besar dan mengurangi alokasi belanja untuk layanan publik serta investasi.
Polarisasi politik menambah risiko lain pada sistem utang global. Di banyak negara, perpecahan politik menyulitkan terbentuknya konsensus atas kebijakan fiskal, manajemen utang, dan reformasi ekonomi. Kebuntuan politik berpotensi menghambat respons pemerintah terhadap masalah utang sehingga krisis makin dalam. Debat plafon utang di Amerika Serikat adalah contoh nyata bagaimana disfungsi politik bisa mengancam stabilitas sistem keuangan global.
Perubahan iklim menjadi ancaman baru yang semakin signifikan bagi keberlanjutan utang. Dampak fisik perubahan iklim—mulai dari cuaca ekstrem, kenaikan permukaan laut, hingga gangguan hasil pertanian—menyebabkan beban ekonomi besar yang dapat memperberat posisi keuangan negara. Transisi menuju ekonomi rendah karbon membutuhkan investasi masif di infrastruktur energi bersih, berpotensi meningkatkan beban utang pemerintah. Risiko iklim juga mengancam nilai aset kreditur dan bisa memicu ketidakstabilan keuangan.
Varoufakis berpendapat, sistem ini bergerak sebagai siklus saling menguatkan di mana semua pihak sekaligus menjadi debitur dan kreditur. Keterkaitan ini menciptakan jaringan ketergantungan bersama yang bisa memperkuat maupun melemahkan stabilitas. Dalam situasi normal, pengaturan ini berjalan baik karena semua pihak berkepentingan menjaga kestabilan sistem: kreditur ingin pembayaran lancar, debitur butuh akses ke pasar kredit.
Namun, menurut Varoufakis, jika kepercayaan terhadap sistem hilang, kehancuran bisa terjadi secara mendadak dan parah. Sistem utang global sepenuhnya bergantung pada kepercayaan. Kreditur harus yakin debitur akan membayar kewajiban mereka, dan debitur harus yakin kredit tetap tersedia dengan syarat yang layak. Jika kepercayaan ini memudar, sistem dapat runtuh melalui berbagai mekanisme.
Kehilangan kepercayaan dapat memicu aksi keluar dari pasar utang secara besar-besaran, membuat harga obligasi anjlok dan suku bunga melonjak. Kondisi ini memperburuk kemampuan debitur membayar utang dan mempercepat krisis sesuai kekhawatiran kreditur. Keterkaitan sistem membuat masalah di satu sektor atau negara cepat menyebar ke area lain melalui hubungan keuangan dan efek penularan.
Siklus saling menguatkan bekerja dua arah: kepercayaan dapat menjaga stabilitas di masa baik, tapi ketakutan dan kepanikan bisa mempercepat keruntuhan di masa buruk. Peringatan Varoufakis menegaskan bahwa stabilitas sistem saat ini tidak boleh menimbulkan rasa aman berlebihan, karena kerentanan mendasar masih tinggi dan dapat terungkap oleh guncangan atau kesalahan kebijakan yang tak terduga.
Yanis Varoufakis adalah ekonom dan politisi asal Yunani yang pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan pada krisis finansial 2015. Ia merupakan akademisi dan co-founder European Democratic Movement (DiEM25), dikenal atas analisis sistem utang global dan kebijakan ekonomi.
Sistem utang global menghadapi ketidakseimbangan serius dalam keuangan internasional, leverage yang tidak berkelanjutan, dan risiko gagal bayar. Dominasi dolar memicu ketidakpastian sistemik yang mengancam stabilitas dan pembangunan ekonomi global.
Varoufakis menilai sistem utang global bisa runtuh ketika kepercayaan hilang, terutama di lingkungan utang tinggi dan suku bunga tinggi. Ekonomi utama menghadapi risiko gagal bayar di tengah polarisasi politik dan instabilitas ekonomi.
Runtuhnya sistem utang global dapat memicu gejolak pasar keuangan, pengangguran massal, kenaikan biaya hidup, dan resesi luas. Masyarakat akan menghadapi penurunan nilai tabungan, daya beli turun, serta instabilitas ekonomi yang membutuhkan restrukturisasi sistemik.
Krisis utang historis seperti krisis Amerika Latin abad ke-19 dan kemerosotan ekonomi Eropa abad ke-20 terjadi berulang. Pelajaran utama: sistem peringatan dini, respons kebijakan proaktif, dan pemahaman kerentanan sistemik sangat penting untuk mencegah atau memitigasi krisis di masa depan.
Individu disarankan diversifikasi aset ke penyimpan nilai stabil, seperti cryptocurrency dan logam mulia. Pemerintah perlu menerapkan kebijakan fiskal berkelanjutan, mengurangi defisit belanja, serta memperkuat fundamental ekonomi guna meminimalkan risiko keruntuhan sistem utang.











