
Ran Neuner, analis kripto terkemuka sekaligus YouTuber ternama, memunculkan tesis kontroversial yang menantang dasar pandangan tradisional mengenai siklus pasar Bitcoin. Melalui analisis terbarunya, Neuner menegaskan bahwa asumsi umum yang menyatakan siklus pasar Bitcoin terutama didorong oleh peristiwa halving setiap empat tahun, hanya bersumber dari data yang terlalu terbatas dan berisiko menyesatkan.

Neuner menyoroti bahwa teori halving didasarkan hanya pada tiga titik data historis, sehingga secara statistik tidak cukup kuat untuk memproyeksikan tren dengan akurat. Ia memperingatkan bahwa investor yang sepenuhnya mengandalkan siklus ini dalam pengambilan keputusan investasi berisiko besar dan dapat salah membaca pergerakan pasar yang substansial.
Pusat argumen Neuner adalah bahwa likuiditas global menjadi faktor penentu utama fluktuasi harga Bitcoin. Ia mengacu pada data historis yang menunjukkan korelasi jauh lebih kuat antara pergerakan harga Bitcoin dan perubahan jumlah uang global, dibandingkan dengan peristiwa halving.
Likuiditas global sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter bank sentral. Ketika bank sentral seperti Federal Reserve atau European Central Bank memperbesar neraca dan menambah likuiditas ke pasar, harga Bitcoin cenderung naik. Sebaliknya, pengetatan likuiditas seperti kenaikan suku bunga atau pengetatan kuantitatif umumnya memicu penurunan harga Bitcoin dan aset berisiko lainnya.
Neuner menjelaskan bahwa korelasi ini konsisten terlihat di berbagai siklus pasar dan memberikan landasan analisis yang jauh lebih solid dibandingkan teori halving.
Aspek penting lain dari analisis Neuner adalah peran Indeks Manajer Pembelian (PMI) terhadap dinamika pasar Bitcoin. PMI merupakan indikator ekonomi utama yang mengukur aktivitas sektor manufaktur dan banyak digunakan sebagai indikator awal kondisi ekonomi secara keseluruhan.
Neuner menemukan bahwa pergerakan harga Bitcoin kerap berkorelasi dengan perubahan PMI. PMI yang meningkat menandakan ekspansi ekonomi, biasanya diiringi dengan minat risiko investor yang lebih tinggi dan kenaikan harga Bitcoin. Sebaliknya, penurunan PMI mengindikasikan pelemahan ekonomi dan kerap memicu arus keluar modal dari aset berisiko seperti Bitcoin.
Korelasi ini memperkuat argumen Neuner bahwa Bitcoin semakin relevan sebagai bagian dari sistem keuangan global, di mana nilai dan pergerakannya sangat dipengaruhi oleh faktor makroekonomi alih-alih sekadar siklus halving yang terisolasi.
Neuner dengan tegas memperingatkan bahwa investor ritel yang hanya berfokus pada siklus halving dalam strategi investasi berpotensi mengalami kerugian signifikan. Ia menyoroti kecenderungan investor ritel untuk menjual Bitcoin pada waktu yang kurang tepat, terutama jika ekspektasi siklus halving mereka tidak terpenuhi.
Neuner juga menyoroti risiko di mana investor ritel menjual aset kripto mereka pada harga rendah kepada investor institusi. Pelaku institusi memiliki perangkat analisis lebih canggih dan mempertimbangkan faktor makroekonomi seperti likuiditas serta PMI yang ditekankan Neuner dalam pengambilan keputusan. Hal ini memberi mereka keunggulan informasi dibandingkan investor ritel yang terlalu mengandalkan narasi halving yang sederhana.
Neuner menyarankan agar investor memiliki pemahaman lebih komprehensif terhadap dinamika pasar, dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas, kebijakan bank sentral, dan indikator makroekonomi sebagai pelengkap analisis siklus halving.
Secara ringkas, Ran Neuner menegaskan bahwa likuiditas global, bukan siklus halving empat tahunan, adalah penggerak utama pergerakan harga Bitcoin. Analisisnya didasarkan pada pengamatan bahwa pergerakan harga historis Bitcoin jauh lebih sejalan dengan perubahan kebijakan moneter, neraca bank sentral, dan indikator ekonomi seperti PMI.
Bagi investor, hal ini berarti strategi investasi Bitcoin yang efektif menuntut pemahaman yang mendalam terhadap dinamika makroekonomi global. Alih-alih berfokus hanya pada peristiwa halving, investor harus memperhatikan kondisi likuiditas di sistem keuangan global, kebijakan moneter bank sentral utama, serta indikator ekonomi yang relevan.
Sudut pandang Neuner mendorong komunitas kripto untuk mereformasi metode analisis mereka dan mengadopsi pendekatan yang lebih menyeluruh, dengan memandang Bitcoin sebagai bagian integral dari sistem keuangan global yang dipengaruhi kekuatan makroekonomi sama seperti kelas aset tradisional.
Teori siklus empat tahunan Bitcoin berkaitan dengan peristiwa halving yang terjadi sekitar setiap empat tahun, di mana imbalan penambangan dipangkas setengah. Ini mengurangi pasokan Bitcoin baru, menciptakan kelangkaan yang secara historis berkorelasi dengan kenaikan harga. Halving utama terjadi pada tahun 2012, 2016, 2020, dan 2024.
Ran Neuner berpendapat bahwa likuiditas global dan PMI, bukan peristiwa halving, yang mendasari siklus pasar Bitcoin. Ia menolak mitos siklus empat tahun karena kurangnya data historis yang memadai dan menekankan likuiditas sebagai penggerak utama pasar.
Likuiditas sangat memengaruhi pergerakan harga Bitcoin. Volume perdagangan tinggi memperkuat stabilitas harga dan menekan volatilitas, sementara likuiditas rendah dapat memperbesar fluktuasi harga. Meski demikian, penyimpangan harga jangka pendek sering terjadi akibat dinamika internal pasar dan perubahan sentimen.
Ya, likuiditas umumnya lebih penting daripada siklus halving. Siklus halving memang berdampak psikologis, namun likuiditas langsung memengaruhi dinamika penawaran dan permintaan pasar, menjadikannya faktor utama pergerakan harga Bitcoin.
Ran Neuner menegaskan bahwa likuiditas global, bukan siklus halving tradisional, menjadi faktor utama pergerakan harga Bitcoin. Perubahan likuiditas langsung berdampak pada harga pasar, sehingga memberikan kerangka kerja yang lebih akurat dalam memahami volatilitas historis.











